Wednesday, October 28, 2015

Menjadi konsumen bijak #BeliYangBaik




          Tahun ini Indonesia telah mencatatkan sejarahnya dalam kejahatan lingkungan sebagai negara penghasil emisi karbon tertinggi akibat pembakaran hutan.  Tak sungkan-sungkan, Professor Eric Meijaard mengatakan kebakaran hutan Indonesia tahun ini adalah “the biggest environmental crime of the 21st century”. Berdasarkan The World Resources Institute, api dan asap dari kebakaran hutan untuk pembukaan lahan kelapa sawit yang sebagian besar berasal dari Sumatera bagian Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan ini telah menciptakan emisi karbon yang lebih tinggi dari seluruh emisi karbon Amerika Serikat, - yang sekarang turun menjadi pencipta emisi gas terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, sejak September 2015 (sumber: http://www.smh.com.au)

           Bayangkan, kita menjadi penghasil emisi karbon terbesar , padahal luas wilayah Indonesia kira-kira lima kali lebih kecil dari luas wilayah Amerika Serikat, bisa dibayangkan, betapa besar zat-zat berbahaya  yang dihirup penduduk yang terkena asap di Indonesia.  Sampai saat tulisan ini dibuat, selain Indonesia *lagi-lagi* belum habis mengirim asap ke negara-negara tetangga, di dalam negeripun, asap kebakaran hutan sudah dihirup oleh puluhan juta penduduk Indonesia sejak awal pembakaran hutan ini terjadi, dan menimbulkan penyakit infeksi saluran pernafasan yang diderita oleh ribuan penduduk Indonesia,(BNPB mencatat ada 503.874 jiwa yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)‎ di 6 provinsi sejak Juli-23 Oktober 2015- bbc.com) bahkan telah diberitakan bahwa sudah ada beberapa kasus penderita ISPA akibat asap yang berujung  pada kematian.  Dulu, korban terbanyak dari pembakaran hutan mungkin fauna, tapi kini korbannya sudah manusia.   

         Lalu, apa langkah konkrit kita dalam menyikapi hal ini? Selain tentu saja membantu mereka yang terkena asap dan terus bersuara kepada pemerintah untuk dapat menangani kasus pembakaran hutan ini sebaik mungkin?
       Saya hanyalah ibu rumah tangga dan wiraswasta kecil yang yakin bahwa kita semua, baik sebagai warga negara, dan sebagai penduduk bumi yang masih membutuhkan kelestarian alam, bisa melakukan sesuatu.  Saya memiliki beberapa saran sederhana yang dapat dilakukan apabila ada kesadaran diri, dan lebih baik lagi ada bantuan dari NGO lingkungan dan pemerintah, diantaranya :

Sebagai pribadi

The greatest threat to our planet is the belief that somebody will save it.  Yes. Saya yakin bahwa saya sendiri, dan Anda semua bisa melakukan sesuatu sebagai diri pribadi.  Sebagai pribadi, hal utama yang bisa saya lakukan dan sarankan kepada pribadi lainnya yaitu membeli yang baik dalam arti selektif dan mengurangi produk dari kelapa sawit yang tidak berkelanjutan sebagai peran serta kita terhadap lingkungan, kalau saya yang biasa-biasa aja ini bisa, saya yakin Anda semua juga bisa :) .  Saya sudah mengganti minyak goreng kelapa sawit saya sejak lima tahun lalu, sejak adanya pemberitaan  pembukaan lahan kelapa sawit telah ikut menurunkan jumlah satwa, terutama satwa dilindungi, ditambah dari literatur yang saya baca, penggunaan minyak goreng dari kelapa sawit yang berlebihan juga tidak baik bagi tubuh, dituliskan bahwa minyak goreng yang berasal dari kelapa, minyak zaitun dan avocado oil sesungguhnya lebih baik untuk tubuh.  Sampai saat inipun saya masih berusaha untuk membeli produk kecantikan dan rumah tangga yang tidak mengandung kelapa sawit dan terus mencari tahu apakah produk-produk yang saya gunakan mengandung kelapa sawit  (setidaknya kelapa sawit berkelanjutan) atau tidak.  Sayapun terus membicarakan pilihan ini kepada keluarga dan teman-teman (semoga the power of mouth to mouth bisa berhasil) saya tidak mengajak mereka untuk sepenuhnya cut penggunaan produk kelapa sawit tentunya, tapi mengajak mereka untuk menggunakan produk yang perusahaannya bertanggung jawab :). Di sisi lain, idealisme untuk tidak menggunakan produk kelapa sawit dan menggunakan penggantinya ini tidak bisa sepenuhnya dilakukan di negri ini, karena tidak mungkin kan kalau kita ke warteg atau restoran ditanya dulu minyak gorengnya apa :) oleh karena itu workshop untuk pengusaha makanan menurut saya juga sangat perlu.   

Saran untuk NGO

1.Membuat aplikasi produk-produk Indonesia berdasarkan tanggung jawab perusahaannya dalam menggunakan kelapa sawit, dan diberikan peringkat perusahaan dan produk yang paling bertanggung jawab (dari produk tanpa menggunakan kelapa sawit- menggunakan kelapa sawit dengan perkebunan berizin/ berkelanjutan – dan kelas terburuk yaitu produk yang menggunakan kelapa sawit tanpa izin perkebunan yang jelas). Setelah membuat aplikasi ini, tentunya masih harus ada usaha lagi untuk mengajak konsumen yaitu rakyat Indonesia yang amat banyak ini untuk menginstal aplikasi ini di smartphonenya dan menjadikannya pegangan saat berbelanja :). Aplikasi seperti ini sebenarnya sudah tersedia di AppleStore ataupun di GooglePlay, tetapi sayangnya yang saya lihat sangat update ini dari luar negri.  

2.  Memasyarakatkan akun media sosial yang fokus dalam memberikan informasi pada masyarakat mengenai produk-produk yang dibuat secara bertanggung jawab dan sadar lingkungan, bahkan produk-produk sehat.  Pada akhirnya, bila betul-betul banyak masyarakat yang menyadari hal ini dari sounding media social yang terus-menerus, mereka tidak akan membeli produk dari perusahaan perusahaan yang mengakibatkan bencana alam dan kerusakan lingkungan.  Salah satu akun media social  yang saya ikuti adalah @palmoilinvestigations , disana dengan jelas diperlihatkan produk-produk yang mengandung kelapa sawit dan tidak, dan apakah kelapa sawitnya berasal dari perkebunan yang berizin atau tidak.  Saya benar-benar mengikutinya sebagai petunjuk untuk membeli produk luar, sayang baru satu-dua produk dari Indonesia yang dibahas disana.

 3. Mengedukasi masyarakat
                 Terus mengedukasi masyarakat agar membeli yang baik, karena produk yang baik untuk dirinya biasanya juga baik untuk lingkungan.  Harus ada yang mengedukasi masyarakat bahwa penggunaan minyak kelapa sawit berlebihan selain tidak baik untuk lingkungan juga tidak baik untuk dirinya sendiri, dan bahwa sesungguhnya  kita memiliki pilihan untuk mengganti penggunaan minyak kelapa sawit dengan minyak lainnya.  Edukasi ini tidak boleh berhenti di kalangan environmentalist dan kalangan usaha, tapi juga masuk ke ranah ibu-ibu (penting karena mereka yang pegang keuangan keluarga dan menentukan konsumsi keluarga) dan ranah generasi penerus, yaitu anak-anak (bisa masuk sebagai workshop di sekolah-sekolah, karena *mungkin terdengar cliché*  ditangan merekalah nanti nasib alam dan bumi ini berada, oleh karena itu akar untuk mencintai lingkungan harus diajarkan sejak dini, dan  anak biasanya malah lebih mudah untuk diberitahu yang baik dan akan memberitahu orang tuanya :) ).  

Akhir kata, saya berharap konsumen Indonesia akan lebih sadar untuk #BeliYangBaik dan izinkan saya menaruh quotes yang saat saya kuliah terpampang besar di mading kampus dan sampai sekarang saya ingat terus :
 When all the trees are cut down,
When all the animals are dead,
When all the water are poisoned,
When all the air is unsafe to breathe,
Only then will we discover
We Cannot Eat Money

Trip ke Jepang dengan Budget 10 Juta-an

Mungkin banyak yg bisa lebih hemat, tapi bisa trip  sendiri ke Negeri Sakura dengan budget 10 jutaan aja saya udah seneng bangett *insert em...